PrakarsaWarga.Com -Penyakit ginjal tidak selalu dipicu oleh diabetes atau tekanan darah tinggi. Sejumlah kebiasaan sehari-hari hingga faktor keturunan ternyata juga dapat meningkatkan risiko kerusakan ginjal secara perlahan tanpa menimbulkan gejala yang jelas.
Penyakit ginjal kronis diperkirakan menyerang hampir 10 persen populasi dunia. Karena berkembang secara bertahap dan sering tanpa keluhan, banyak penderita baru menyadari kondisinya saat fungsi ginjal sudah menurun cukup berat.
Berikut 5 faktor yang dapat memicu kerusakan ginjal dan sering luput dari perhatian.
1. Obesitas Berat badan berlebih membuat ginjal harus bekerja lebih keras untuk menyaring darah. Kondisi ini dikenal sebagai hiperfiltrasi dan jika berlangsung terus-menerus dapat memicu terbentuknya jaringan parut yang mengurangi kemampuan ginjal menjalankan fungsinya.
2. Kebiasaan Merokok Merokok bukan hanya membahayakan paru-paru dan jantung, tetapi juga mempercepat penurunan fungsi ginjal. Nikotin dapat mengurangi aliran darah ke ginjal, sementara zat beracun dalam asap rokok memicu peradangan dan kerusakan jaringan.
3. Terlalu Sering Mengonsumsi Obat Pereda Nyeri Penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) secara berlebihan untuk mengatasi sakit kepala atau nyeri sendi bisa menyebabkan kerusakan ginjal permanen. Selain itu, masyarakat juga perlu berhati-hati terhadap obat herbal atau jamu yang tidak memiliki izin karena berpotensi mengandung zat berbahaya.
4. Konsumsi Suplemen Tanpa Pengawasan Suplemen tinggi protein, kreatin, maupun produk pembakar lemak memang populer di kalangan pencinta kebugaran. Namun, jika dikonsumsi berlebihan tanpa pengawasan tenaga medis, produk tersebut dapat memberikan beban tambahan pada ginjal, terutama bagi orang yang memiliki gangguan ginjal tersembunyi.
5. Infeksi Saluran Kemih dan Batu Ginjal Infeksi saluran kemih (ISK) yang sering kambuh dapat menyebar hingga ke ginjal dan menyebabkan jaringan parut. Sementara itu, batu ginjal yang tidak segera ditangani berisiko menimbulkan penyumbatan serta peradangan yang dapat merusak organ tersebut.









