Kisah Yanto, Pemulung Jakarta yang Bertahan Hidup Berbekal Gerobak Rp700 Ribu

PrakarsaWarga.com – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan Ibu Kota, masih banyak cerita perjuangan yang luput dari perhatian. Salah satunya adalah kisah Yanto (49), seorang pemulung yang setiap hari menyusuri jalanan Jakarta Timur demi menghidupi keluarganya.

Berbekal gerobak kayu sederhana yang dibelinya secara mencicil seharga Rp700 ribu, Yanto mengumpulkan kardus bekas, botol plastik, hingga kertas yang sudah tidak terpakai. Baginya, barang-barang yang dianggap sampah oleh banyak orang justru menjadi sumber penghasilan untuk bertahan hidup.

Setiap sore, Yanto memulai perjalanannya dari kawasan Rawasari hingga Buaran. Dengan berjalan kaki sambil mendorong gerobaknya, ia menyusuri trotoar, tempat sampah, hingga sudut-sudut jalan yang berpotensi menyimpan barang bekas bernilai jual.

Pandemi COVID-19 Mengubah Jalan Hidupnya

Sebelum menjadi pemulung, Yanto merupakan seorang pedagang di Pasar Klender. Kehidupannya kala itu cukup stabil hingga pandemi COVID-19 menghantam Indonesia.

Turunnya daya beli masyarakat membuat usahanya perlahan bangkrut. Modal habis dan usaha tak lagi mampu bertahan. Kondisi tersebut memaksanya mencari pekerjaan lain agar tetap bisa mengirim nafkah kepada istri dan anak-anaknya yang tinggal di Sumatera.

Daripada menganggur atau meminta belas kasihan orang lain, Yanto memilih bekerja sebagai pengumpul barang bekas.

“Saat corona semuanya berubah. Dagangan sepi, modal habis, akhirnya saya memilih jadi pemulung,” ujarnya.

Penghasilan Tak Sampai Rp70 Ribu per Hari

Selama tiga hari, Yanto mengumpulkan berbagai jenis barang bekas sebelum menjualnya ke pengepul di kawasan Pondok Kelapa, Jakarta Timur.

Sekali setor, ia memperoleh sekitar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu. Jika dirata-ratakan, penghasilannya hanya berkisar Rp50 ribu hingga Rp70 ribu per hari.

Nominal tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari sekaligus disisihkan sebagai tabungan darurat apabila sewaktu-waktu sakit.

Meski hidup jauh dari keluarga, Yanto berusaha tetap bertahan. Ia hanya mampu pulang ke kampung halaman sekitar setahun sekali karena keterbatasan biaya.

Gerobak Rp700 Ribu Jadi Aset Paling Berharga

Di balik kesederhanaannya, Yanto memiliki satu hal yang paling ia banggakan, yakni gerobak kayu miliknya sendiri.Gerobak tersebut dibeli dengan cara mencicil dari hasil mengumpulkan barang bekas hingga akhirnya lunas di harga Rp700 ribu.

Baginya, gerobak itu bukan sekadar alat untuk mengangkut rongsokan. Gerobak tersebut menjadi modal utama mencari nafkah sekaligus teman setia yang selalu menemaninya menyusuri jalanan Jakarta.Saat lelah, gerobak itu juga menjadi tempatnya beristirahat sebelum kembali melanjutkan perjalanan mencari barang bekas.

Harapan Sederhana Seorang Ayah

Bagi sebagian orang, tumpukan kardus dan botol plastik mungkin tidak memiliki nilai. Namun di tangan Yanto, setiap lembar kardus menjadi harapan untuk bertahan hidup.

Ia terus mengumpulkan rupiah demi rupiah dengan harapan sederhana, yakni dapat terus menghidupi keluarga dan suatu hari kembali berkumpul bersama istri dan anak-anaknya.

Perjuangan Yanto menjadi gambaran bahwa di balik kerasnya kehidupan Jakarta masih banyak masyarakat yang berjuang dengan penuh kejujuran, kerja keras, dan semangat pantang menyerah demi masa depan keluarga.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You Missed

Wisata Gratis HUT Jakarta Diserbu Warga, Antrean Panjang hingga Kepadatan Ekstrem Warnai Destinasi Favorit

Wisata Gratis HUT Jakarta Diserbu Warga, Antrean Panjang hingga Kepadatan Ekstrem Warnai Destinasi Favorit

Dugaan Korupsi Seragam Sekolah di Langkat Tuai Kecaman, Dinilai Bebani Orang Tua Siswa

Dugaan Korupsi Seragam Sekolah di Langkat Tuai Kecaman, Dinilai Bebani Orang Tua Siswa

Sejarah Pekan Raya Jakarta, Dari Pameran Dagang Sederhana hingga Jadi Festival Terbesar di Ibu Kota

Sejarah Pekan Raya Jakarta, Dari Pameran Dagang Sederhana hingga Jadi Festival Terbesar di Ibu Kota

Pemprov DKI Terapkan Ganjil Genap di 28 Ruas Tol Jakarta 23–26 Juni 2026, Ini Daftar Lengkap Lokasinya

Pemprov DKI Terapkan Ganjil Genap di 28 Ruas Tol Jakarta 23–26 Juni 2026, Ini Daftar Lengkap Lokasinya

Pramono Anung Soroti Krisis Sampah Jakarta, Dorong Pemilahan dari Sumber untuk Atasi Beban Bantargebang

Pramono Anung Soroti Krisis Sampah Jakarta, Dorong Pemilahan dari Sumber untuk Atasi Beban Bantargebang

Penunjukan Komisaris BUMN Tuai Kritik, Bakom RI Tegaskan Strategi Diversitas dan Perspektif Baru

Penunjukan Komisaris BUMN Tuai Kritik, Bakom RI Tegaskan Strategi Diversitas dan Perspektif Baru